000010

Articles,Events,From Us,Review

Travelling, dan Mengembangkan Ide       

27 Feb , 2017  

 Ornament is a crime” merupakan sebuah frasa dari Adolf Loos yang seringkali kita dengar sebagai seorang mahasiswa arsitektur yang hidup pada massa dominasi arsitektur modern. Namun benarkah demikian? Benarkah lengkungan, lukisan, serta pahatan pada langit-langit gereja Basilika St. Petrus tidak memberikan fungsi apapun terhadap bangunan tersebut? Pada Januari 2017, beberapa mahasiswa Arsitektur Unpar mendapat kesempatan untuk merasakan dan menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

“On voyage pour changer, non de lieu, mais d’idées” Hippolyte Taine

Kutipan di atas memiliki arti “We travel to change, not to change a place, but to change ideas”. Paragraf sebelumnya memberikan contoh konkrit dari kutipan tersebut. Dewasa ini modernisme banyak mempengaruhi cara kita mendesain sebagai arsitek maupun cara kita berpikir. Aspek fungionalitas menjadi prioritas dan kurang memikirkan pengalaman ruang yang dirasakan penggunanya. Dalam perjalanan di Eropa pada Kuliah Lapangan kemarin, para peserta dibawa untuk merasakan secara langsung ruang arsitektur klasik yang selama ini hanya dapat kita baca maupun lihat melalui foto. Ternyata merasakan ruang aslinya merupakan sebuah pengalaman ruang yang luar biasa, tak mungkin dapat dirasakan jika hanya memandanginya di dalam buku atau foto-foto.

Perjalanan kami berlangsung selama sepuluh hari, dengan dua hari berjalan menyusuri kota Paris, bermalam di Zurich, dan menghabiskan sisanya di Itali. Tak banyak hal yang dapat kita lihat di Paris dikarenakan waktu yang begitu sempit, namun kami mendapat kesempatan untuk melihat piramida I. M. Pei yang ikonik tersebut di depan Museum Louvre dan memasuki Centre Pompidou.

Sebagian besar waktu dilewati di dalam bus dikarenakan perpindahan kota. Meskipun kurang dapat merasakan ruang kotanya, namun banyak ide mengenai infrastruktur yang bisa kita dapatkan dari pengalaman tersebut. Swiss misalnnya, yang memiliki banyak perbukitan, memiliki fasilitas transportasi yang sangat maju dengan membuat terowongan yang menembus bukit untuk mempersingkat waktu perjalanan.

Di Venice kita dapat melihat sistem yang begitu berbeda, di mana sistem transportasinya sebagian besar dilakukan di atas air. Terdapat satu hari di mana kami banyak berjalan menyusuri kota dengan berjalan kaki, yaitu di Roma. Di sana, kami mendapat begitu banyak perspektif baru serta pengalaman ruang yang lebih terasa dibandingkan sebelumnya. Kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Colosseum, sebuah peninggalan amphiteater terbesar yang pernah dibangun dan membuat permohonan dengan melempar koin di Trevi Fountain.

Kami juga mengunjungi Basilika Santo Petrus, sebuah gereja di tengah kota seluas 44 hektar yang hanya dihuni oleh 842 orang dan beribu pengunjung. Gereja tersebut merupakan ikon kota Vatikan City yang dapat kita lihat dalam film The Da Vinci Code. Dalam gereja ini, dapat kita rasakan jawaban mengenai kebenaran pernyataan Adolf Loos. Ornamen yang sering kita sebut sebagai sebuah kriminalitas kini menghadirkan atmosfer yang pas untuk gereja tersebut. Dapat dibayangkan betapa ruang yang kita rasakan akan sangat berbeda tanpa lengkungan-lengkungannya.

Bagaimana seseorang bisa mengkalkulasikan secara tepat letak bukaan untuk memberi cahaya matahari yang begitu indah? Bagaimana sang arsitek bisa menggunakan material terbatas pada masanya untuk membangun gereja setinggi itu? Tak bisa dipungkiri bahwa seorang modernist sekalipun akan merasa nyaman menghabiskan waktunya di sana. Dari pengalaman tersebut muncul pertanyaan serta inspirasi yang dapat membuka pikiran kita untuk menciptakan suatu desain yang ‘lebih’ daripada yang telah kita lakukan selama ini.

Perjalanan tersebut juga membuka pikiran mengenai berbagai variasi pekerjaan untuk seorang arsitek. Mata kuliah ‘Pemugaran Bangunan’ misalnya, yang sedikit diminati oleh mahasiswa, ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam lingkup arsitektur di Eropa. Dapat diperhatikan bahwa bangunan cagar budaya di sana sangatlah terawat dan dijaga dengan baik. Penataan kota serta sistem transportasi yang jauh lebih maju juga menumbuhkan gagasan baru untuk memperbaiki keadaan kota-kota di Indonesia.

Perbedaan benua, bahasa, tingkah laku, dan sebagainya tentu memberi banyak gagasan baru sebagai seorang arsitek. Dengan berpergian, kita banyak mengetahui hal baru serta merasakan secara langsung budaya yang ada di suatu tempat. Berpergian juga dapat membuka pikiran kita mengenai pilihan-pilihan baru untuk kehidupan kita, serta komunitas baru untuk dikenal. Seperti kata St. Augustine, “The world is a book, and those who do not travel read only a page”, begitu banyak hal terlewatkan oleh kita jika hanya menghabiskan hidup di satu tempat.

000014
ELIZABETH HADINOTO

, , , , , ,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *