11899

Events,Review

Review: Nirvanesian of Architecture

14 Feb , 2016  

Jumat (6/2) lalu, mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional mengadakan acara diskusi yang bertempat di Saung Mang Udjo, Bandung. Bertajuk Nirvanesian of Architecture, diskusi ini mengangkat isu lokalitas dalam arsitektur. Terdapat tiga orang narasumber: Sudjiwo Tedjo (budayawan), Ren Katili (arsitek tropis), Jimmy Purba (arsitek), dan Yu Sing Lim (arsitek).

Diskusi diawali oleh pengantar oleh Sudjiwo Tedjo mengenai bahasa atau makna dalam arsitektur. Menurut beliau, dalam arsitektur, manusia lah yang meminjam ruang kepada alam, dan sudah seharusnya mengikuti bahasa yang dimiliki oleh alam.

Diskusi dilanjutkan dengan pengantar mengenai arsitektur tropis oleh Ren Katili. Sebagai seorang arsitek tropis, sudah sewajarnya apabila pembahasan menggunakan pendekatan fisika bangunan. Arsitektur Indonesia, menurut beliau, adalah arsitektur yang harus bisa bertahan di iklim Indonesia (fit in context). Menurut beliau, negara tropis seperti Indonesia memang memiliki kecepatan angin yang cenderung kecil, dan perbedaan suhu yang tidak signifikan antara siang dan malam hari. Oleh karena itu, dibutuhkan ‘gerakan’ angin agar tercipta aliran udara yang baik sehingga kenyamanan dalam suatu ruang dapat tercipta.

Bicara tentang lokalitas, tentu perlu ada pembahasan melalui pendekatan budaya. Itulah yang dilakukan oleh Jimmy Purba (Hepta Desain). Menurut beliau, arsitektur Indonesia adalah arsitektur yang mampu mewujudkan hasil interpretasi tentang kebudayaan Indonesia. Sebagai contoh: tradisi, kepercayaan, struktur sosial, dan sebagainya yang merupakan cerminan kebudayaan suatu tempat, dapat diabstraksi dan ditransformasi menjadi bentukan arsitektur yang sesuai dengan konteks perkembangan jaman saat ini.

Yu Sing Lim memberikan pendapatnya tentang rekontekstualisasi arsitektur Nusantara melalui sudut pandang yang juga berbeda: lingkungan. Saat ini, kecenderungan yang terjadi adalah bumi justru semakin rusak karena pembangunan—demi memenuhi kebutuhan manusia. Beliau juga membahas akibat globalisasi dan kemajuan teknologi. Keterhubungan antarmanusia pun semakin pudar sehingga lokalitas dan keberagaman pun sulit untuk ditemukan lagi. Beliau juga mempertanyakan bagaimana cara interpretasi arsitektur Nusantara di jaman globalisasi ini, tanpa secara harafiah menjiplak yang nampak.

Diskusi ini banyak mengangkat tentang ‘bahasa’—baik itu bahasa lisan beserta maknanya, bahasa budaya, maupun bahasa lingkungan. Setiap kata dalam suatu bahasa memiliki arti yang dapat membebaskan sekaligus memenjara maknanya. Jangan sampai kita mengaku sebagai arsitek apabila tidak paham mengenai bahasa, karena setiap kata memiliki konsepnya sendiri.

 

Text | AM

,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *