20160129-S__3629199-3

From Us,Interview

Prof. Sandi A. Siregar & Gedung 5

30 Jan , 2016  

Telah dipanggilnya Prof. Dr. Sandi A. Siregar, Ir., M.Arch pada hari Jumat, 29 Januari 2016 pada pukul 06.00.

Prof Sandi telah mendedikasikan hidupnya dalam dunia pendidikan, terutama di Arsitektur Unpar. Beliau memberikan ilmu-ilmu dan pengajaran melalui sikap dan perkataannya yang dapat menjadi bekal hidup terutama bagi para mahasiswa yang diajarnya.

 

Untuk mengenang jasanya, kami ingin memasukkan kembali sebuah interview dengan beliau yang telah dilakukan oleh Kommunars pada tahun 2014 silam, untuk mengetahui sejarah perancangan dari gedung 5 arsitektur Unpar. Beliau merupakan salah satu perancangan Gedung 5 serta masterplan dari kampus Unpar sendiri. Dengan bantuan kertas dan bolpen, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

 

Kommunars: Kami tahu prof yang dulu mendesain gedung 5. Pertama-pertama, bagaimana sejarah dibangunnya gedung 5? Mungkin dari proses perancangannya, waktu pembangunannya?

 

Prof. Sandi: Coba ambilkan saya kertas.

 

Seharusnya kalian tahu. Gedung 5 ini kan bagian dari kompleks atau kampus, dan juga diletakkan di konteks tempat maupun waktu. Itulah ciri arsitektur, selalu ada konteks tempat dan waktu.

 

Unpar dahulu ada di jalan merdeka. Ketika jurusan semakin banyak, tahun 1965 fakultas teknik pindah ke suatu gedung di Jalan Sudirman, tetapi lokasinya tidak wajar. Lalu mahasiswa Unpar mengusahakan dana untuk membangun di sini (Ciumbuleuit). Tapi karena fakultas teknik adalah bagian dari kampus, diusahakanlah agar (lokasi) ini nantinya menjadi kampus unpar.

 

Untuk itu, jurusan arsitektur, (mahasiswa-mahasiswa) teknik mula-mula, ingin mencari dana keluarga negeri. Ada masyarakat katolik di Jerman yang bersedia membantu, tapi harus ada proposal, maka diadakan sayembara di kalangan mahasiswa. Sekitar tahun 1970 awal, ada sayembara bagi mahasiswa unpar untuk membuat rancangan; semacam masterplan, dan gedung yang diutamakan adalah gedung sipil.

 

Jadi, dibuatlah masterplan di kalangan mahasiswa. Di antara mahasiswa itu kebetulan saya ikut dengan teman-teman, ada 4 orang. Akhirnya diadu dan menang. Tapi harus digabungkan dengan 2 pemenang berikutnya karena ada gagasan baik. 6 orang diminta mengembangkan lebih lanjut.

 

Kemudian masterplan dan proposal ini dikirimlah ke sebuah lembaga di Jerman (yang akhirnya) mengirim dana untuk membantu.

 

Bangunan-bangunan ini dulu (orientasinya) menghadap utara. Setelah diolah, jadilah seperti (bangunan saat ini). Kenapa dulu bangunannya (berorientasi ke utara)? Karena romantis, pemandangannya bagus. Tetapi (dengan pemikiran sekarang) melihat pemandangan tidak perlu melihat dari dalam, bisa sambil duduk di luar. Dulu ketika (saya) masih mahasiswa, itu romantis.

 

Sejak itulah konsep pertama diletakkan, yaitu pembagian zona. Di (satu sisi) fakultas eksakta, keteknikan. (Di sisi lain) fakultas-fakultas sosial, yaitu hukum, ekonomi, dan sebagainya. Dulu belum ada, tetapi kami siapkan.

 

Proposalnya lalu kamu perbaiki, tapi yang disetujui hanya jurusan sipil karena dianggap penting untuk negeri berkembang. Jadi mahasiswa hanya membuat pra-rancangan; masterplan seluruh kambus, zoning, blok, dan sebagainya.

 

(Setelah pra-rancangan), gambar kerja. Karena kami yang membuat pra-rancangan, kami tidak boleh ikut karena kami mahasiswa. Maka dibuatlah (gambar kerja) oleh satu biro, namanya biro sangkuriang. Kontraktor itu bagus, mereka mempertahankan sifat, karakter yang kami desain.

 

Kommunars: Prof  ada style khusus untuk gedung arsitektur. Style gedung arsitektur itu bagaimana?

 

Prof. Sandi: Style? Itu bukan style. Bentuk luar adalah konsekuensi dari denah dengan segala pertimbangan. Denah tuh gitu-gitu aja: linear dan terpusat. (Tidak hanya) pada tingkat bangunan, pada tingkat kampus dan lingkungan juga bisa.

 

Nah (gedung 5) ini apa? Linear. Single-loaded, cuma satu. Double-loaded dianggap mahal. Kalau (secara) jangka panjang, lebih murah karena dapat menghemat waktu. Denah memang begini (cara) mengambilnya. Dulu (ketika merancang, kami) sampai membayangkan suasana, bahan bangunannya. Ketika dilaksakan berbeda dengan yang saya bayangkan.

 

Masalahnya (yang pertama) yaitu angin. Kedua, silau. Lalu bisa dipisahkan dengan cara begini, sehingga (masalahnya teratasi). Rasional, kan? Ini semua sudah pengolahan, bukan aslinya. Tetapi kira-kira begini lah bentuk itu.

 

Jadi kalian jangan bilang style, melainkan konsekuensi logis dari pemecahan fungsional. Itu begitu, ini begini. Semuanya rasional dan logis, bukan soal feeling.

 

Kommunars: Bagaimana dengan penangkal cahaya (yang menjadi ciri khas)?

 

Prof. Sandi: Bukan penangkal cahaya semata-mata tapi panjang. Kalian lihat, dulu pada jamannya dimasukkan late modernism, (seperti karya) Charles Jencks. Kalian harus cari, jangan tidak.

 

Kedua, ada suatu sikap. Coba kamu lari ke (jurusan sipil). Di depan (gedung) jurusan sipil ada kantor administrasi. Nah, sekarang saya bisa bilang itu sebenarnya salah. Karena di sisi ini (ada jendela,) sumber cahaya, kok malah ditutup oleh lemari?

 

Ini memang pengembangan dari biro tadi. Memang biro (yang menangani pembangunan gedung 4 dan 5) berusaha menerjemahkan (kondisi). Saya yakin saya tidak akan membuat seperti ini. Pengelola ini memecahkan masalah dengan ditutup. Seharusnya dicari pemecahannya, berikan sesuatu. Ini amat rasional! Ini yang saya berikan sekarang, argumentasi. Keindahan itu bisa diperolah dengan berbagai cara, tetapi harus dapat dipertanggungjawabkan. Kalau tidak, kalian tidak perlu sekolah.

 

Sekarang saya punya pertanyaan untuk kalian. Kenapa kalian concerned? Karena dengar-dengar mau dibongkat?

 

Begini, bongkar bangun. Dulu Bung Karno, yang kalian kagumi itu, revolusioner; membangun, bongkar. Itu hakekat. Bangunan (pun) pasti suatu ketika dibongkar.

 

Semuanya itu pasti direncanakan, lalu dibangun, lalu dipakai, dan suatu ketika harus dibongkar. Karena bangunan tidak luput dari hukum alam, menjadi letih, tidak kuat, decayed. (Bangunan) tidak bisa tahan seumur hidup.

 

Ini bukan soal bangunannya sebetulnya, tapi bagi saya soal ini: pola yang sudah ada lalu kita acak-acak –itu yang tidak dipertimbangkan sekarang– menjadi hilang jejaknya.

 

Sebetulnya, saya sudah pernah usulkan. Akhirnya waktu sayembara ini saya mengundurkan diri tidak mau menjadi juri. Saya berikan pandangan, (dan mundur) daripada saya diomeli orang. Saya usulkan untuk membiarkan saja (bangunan yang sudah ada), ada 15 meter (di lapangan parkir teknik yang) bisa diisi. Mau diisi bangunan 100 meter juga bisa.

 

Kommunars: Kemudian, sejak kapan sih prof ada gagasan gedung 5 untuk dirobohkan?

 

Prof. Sandi: Sudah lama. Ada beberapa orang yang ingin merobohkan untuk proyek besar.

 

Kommunars: Kalau menurut prof sendiri?

 

Prof. Sandi: Ini kan kampus, ya, suasananya… Memang sudah ada desain, tapi secara spasial…

 

Kommunars: Berarti prof sendiri kurang setuju, karena merusak masterplan yang sudah ada?

 

Prof. Sandi: Tanyakan pada para lulusan kita. Banyak yang tidak setuju, tapi tidak berani bicara.

 

(Setelah muncul fakultas teknik,) Fakultas hukum minta dirancang, kemudian dirawat. Kalian lihat adanya pengembangan. Berikutnya, fakultas fisip. Prinsip-prinsip (yang sudah ada) dipakai. Ada (hal-hal) baru, tapi mengacu pada masterplan.

 

Nah, itu untuk menambah, kalian harus datangi arsitek dan bicara. Etika itu profesi. Sama-sama berprofesi, (harus memiliki hubungan yang) dekat, bukan (menjadi saingan). Itu jiwa yang seharusnya. Kalau kuliah, (yang harus dikembangkan( jangan kepintaran saja tapi sikap (juga).

 

Desain itu suatu keputusan, keputusan pakai bahan apa, pakai pintu apa. Itu semua adalah etika. Untuk siapa (kita mendesain), bukan untuk kita kan? Jangan puas sendiri dalam mendasain. (Pikirkan) kenyamanan orang lain. Jangan sampai orang tergelincir karena lantai yang licin, itu kesalahan arsiteknya. Sekarang memang belum ada, (tetapi) sebentar algi ada undang-undang profesi. (Arsitek) bisa dituntut, seperti malpraktik dokter. Desain itu praktek kita. Keliru dan membuat orang celaka, itu kesalahan kita.

 

Jangankan begitu, (tembok) yang kotor, setiap 2 tahun dicat, seharusnya bisa dihindari. Itu adalah kebutuhan, bukan bentuk lucu-lucu, (harus bisa) dipertanggungjawabkan)

 

Seharusnya (perkembangan) dilanjutkan, jangan dibongkar. Ada kontinuitas. Kalau berubah terus, orang-orang akan bingung karena karakter dan prinsip-prinsip menjadi hilang.

 

Kommunars: Kan arsitektur itu bisa mempengaruhi perilaku orang, menurut prof sendiri bakal ada perubahan, tidak, di gedung yang baru?

 

Prof. Sandi: Siapa yang mengajari itu? Ini namanya hubungan antara manusia dan lingkungan. Manusia itu bukan binatang. Binatang kalau habitatnya diubah, mati dia. Manusia kan berdaya adaptasi tinggi. Ujungnya free will, manusia bisa free will, tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Budaya terbentuk karena manusia menyesuaikan diri dengan kondisi, sehingga orang bisa masuk ke gedung apa saja yang bentuknya bagaimana saja. Jangan kurangi kapasitas manusia.

 

Kalau kamu solat, (apakah) kamu peduli sama lingkungan kamu? Terganggu kah kamu? Kamu solat di mana saja, oke. Diberi tempat di bawah tangga, kamu solat tidak masalah.

 

Jadi, ini berlebihan; lingkungan fisik mempengaruhi manusia sehingga perilakunya berubah. Fisik itu tidak menentukan, tapi memfasilitasi. Contohnya, membuat taman ada tekniknya. Ditinggalkan beberapa bulan, kemudian akan ada bagian taman yang mati. Itu berarti tempat banyak orang lewat, maka bagian itu yang diberi perkerasan. Itu logis.

 

Jadi, itulah perilaku. (Kalau ada masalah,) tidak dibiarkan begitu saja, bisa menuntut. (Jadi, seharusnya kita) bukan takut dipengaruhi (lingkungan fisik).

 

Kommunars: Pertanyaan terakhir, prof, Hal apa yang diharapkan prof untuk arsitektur unpar ke depannya?

 

Prof. Sandi: Saya kan di sini salah satu dosen yang paling tua, tentu saja saya tidak ingin (keadaannya) menurun terus. Saya ingin (keadaannya) naik. Itu masalahnya, bagaimana, sikap-sikap apa (yang harus dilakukan) agar (keadaan) naik? Jangan membuat sesuatu yang menurunkan (kondisi). Kita ini masih meeting dengan fakultas-fakultas lain.

 

Saya waspada, karena kita berjalan, sementara mereka berlari. Tentu saja mereka bisa menyusul.

 

Bukan soal gedungnya; tapi (soal) kontinuitas. Gedung-gedung bisa berubah, tapi pola kota tidak. Maka (menurut saya, bagusnya) bukan semata-mata untuk mempertahankan (kontinuitas), tapi buat apa (dibongkar)? Bangunan ini masih bisa dipakai. (Masalah-masalah) bisa dipecahkan (dengan cara lain), dan para alumni memiliki banyak kenangan. Semuanya terjadi di (gedung 5 ini). Hubungan alumni dan almamater menjadi tidak baik.

 

Demikian hasil pemikiran Prof Sandi yang sekarang telah kembali kepada Sang Pencipta. Selamat Jalan Prof, terima kasih atas segala ilmu yang telah engkau berikan. Kami tidak akan sia-siakan. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah.

 

Text: DK
Photo & Interview by: Talenna F

,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *