2jczn2h

Contributors,Others

Memaknai Ruang Dalam Pada Arsitektur Vernakular Nias

27 Jan , 2016  

Agustus 2013 kemarin, Arjau melakukan ekspedisi ke tanah Nias, tepatnya desa Hilinawalo Fau di Nias Selatan. Desa tersebut memiliki hampir 150 massa tinggal yang masih dikategorikan sebagai bangunan tradisional, sisanya modern. Terlepas dari resistansi gempa dan keindahan fisiknya, arsitektur Nias Selatan memiliki pesona ruang dalam yang jarang terekspos.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Ruang dalam yang dimiliki dari rumah adat Nias cenderung kompleks untuk ukuran bangunan vernakular. Ia sudah mengenal adanya permainan elevasi lantai sebagai pembagi ruang. Dan, dengan cerdas leluhur kita mampu memainkan zonasi ruang dalam dengan jelas dan terdefinisi melalui permainan elevasi lantai yang dikenal dengan istilah bato, ahembato, dan dane-dane.

Tidak berhenti bicara di elevasi, lika-liku ruang pun sangat “terdesain” dengan sangat matang. Dimulai dari bangunan itu sendiri yang terbagi atas ruang kolong dan ruang atas, sampai pada hubungan antar massa yang bergandengan. Daerah pintu masuk diletakkan diantara massa, menempel, sehingga mengizinkan pengguna dapat berjalan melewati antar massa secara leluasa.
Image and video hosting by TinyPic

 

Hebatnya lagi, arsitektur Nias mewajibkan penggunanya untuk melakukan kontak sentuh dengan sekelilingnya yang jarang dijumpai di arsitektur modern yang cenderung memanjakan ini. Banyak elemen arsitektur yang dibuat tidak memenuhi standar seperti tangga yang curam, ambang pintu yang terlalu pendek, atau tempat duduk yang tinggi tanpa adanya pijakan. Akan tetapi hal seperti ini memicu interaksi taktil antara pengguna dan arsitekturnya.

Image and video hosting by TinyPic

Sesungguhnya, sebuah karya arsitektur nusantara amat disayangkan apabila hanya diapresiasi melalui keindahan fisiknya sebagaimana tersaji di majalah. Unsur taktil harus dieksplorasi dalam mengalami ruang arsitektur vernakular. Apresiasi lahir bukan karena objek semata, akan tetapi ada hubungan timbal baik antara apresiator dan yang diapresiasi.

Image and video hosting by TinyPic

‘The taste of the apple … Lies in the contact of the fruit with the palate, not in the fruit itself’

~Jorge Luis Borges

ditulis oleh : Adriel Arizon (aktif di wadah minat Arsitektur Hijau angkatan Bagja Pratipa, ia juga menjabat ketua HMPSArs tahun periode 2012/2013)

,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *