Indonesialand

Articles,Events,From Us,Review

Indonesialand, Pameran Experimental Dengan Kata Kebudayaan

15 Oct , 2016  

Belakangan ini dunia arsitektur di Indonesia diramaikan oleh sebuah pameran. SAGI yang bekerjasama dengan Sunaryo dan Himpunan Arsitektur Unpar serta Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) membuat satu formula yang unik dan segar untuk dunia pameran arsitektur di Indonesia. Dimana ada kurang lebih 29 karya arsitek baik firma ataupun instansi pendidikan dan 5 karya terbaik sayembara dari mahasiswa arsitektur yang dipamerkan di Selasar Sunaryo, tidak lain dan tidak bukan, pameran dan sayembara itu diberi nama “indonesialand”.

Pameran yang berlangsung dari 2 September 2016-2 Oktober 2016 ini mengusung tema yang tidak biasa, bagaimana tidak, panitia mengangkat tema experimental dengan membawa kata kebudayaan, dan pada malam penutupan Pameran Indonesialand, redaksi Kommunars berhasil bertemu dan berbincang langsung dengan Sarah Ginting mengenai pameran Indonesialand, pertama-tama Sarah Ginting yang hadir dengan pakaian serba hitam tersebut menjelaskan bahwa pameran ataupun sayembara tersebut sama-sama mengusung tema experimental dengan kata kebudayaan.

Sisi experimental ini terlihat jelas dari bebasnya para kontributor memamerkan karyanya, hasil pemikiran baik itu mengenai ide suatu bangunan, tata kota, hingga kehidupan mahasiswa yang dituangkan dalam bentuk maket hingga instalasi dipamerkan disana. Sarah juga menjelaskan bahwa para peserta pameran tersebut diberi kebebaskan, namun memang telah diberi guidance, yaitu tema mengenai kebudayaan dan turunannya. “memang peserta telah diberi guidance, namun interpretasinya kembali berpulang kepada masing-masing peserta,” jelasnya ketika diwawancara.

Tidak sembarang karya bisa ikut meramaikan pameran Indonesialand, dimana para peserta harus mengikuti proses kurasi yang cukup panjang. Konsep Indonesialand land sendiri telah ada sejak tahun 2015, namun mulai dibicarakan serius pada bulan februari 2016, dengan mulai membuat list beberapa peserta. Pada awalnya peserta yang masuk dalam list ada lebih dari 50 peserta, namun melalui proses kurasi dan seleksi, terdapat beberapa peserta yang dieliminasi dan mengundurkan diri. “ada proses eliminasi karna arsitek yang diundang itu tidak berkenan atau tidak tertarik,” tutur Sarah, namun Sarajh juga menjelaskan bahwa ada beberapa peserta yang dieliminasi karyanya karena kurang menarik.

Keseriusan Kuratorial pada pameran ini terlihat dari proses diskusi kuratorial yang berlangsung dari bulan maret hingga agustus 2016, tak tanggung-tanggung para peserta dianjurkan untuk menginterpretasikan Terms of References (TOR) sebanyak 7 kali. Dan pada diskusi kuratorial tersebut para peserta dan pihak curator saling berdiskusi dan membeberkan idenya untuk saling memperkaya sampai titik tertentu. Sarah Ginting dan Pihak Kurator sangat serius dalam menjalankan system kuratorialnya untuk menciptakan kurasi yang baik dan benar “dalam menjadi kurator itu kan ada ilmu-ilmunya, yang mendasari, gak bisa sembarangan menjadi kurator” tuturnya. Sarah juga menjelaskan tujuannya membuat pameran dengan kuratorial yang baik dan benar itu adalah agar pameran Indonesialand dapat mengedukasi para peserta dan para pengunjungnya.

 

Untuk Membangun Kesadaran Akan Arsitektur

Dengan konsep yang matang dan dengan persiapan yang tidak sebentar, pameran Indonesialand ini juga mempunyai tujuan yang cukup besar. Tujuan dan harapan dari Indonesialand ini ialah untuk memberikan kesadaran kepada siapapun yang datang dan melihat hasil pemikiran dari para arsitek dan mahasiswa ini bisa menyadari dan memahami bahwa arsitektur itu bukanlah sekedar bangunan. “jadi harapan saya adalah bahwa, kita para arsitek sendiri, mahasiswa sebagai calon arsitek dan masyarakat paham bahwa arsitektur itu bukanlah sekedar bangunan,” jelas Sarah Ginting

Sarah juga menjelaskan masyarakat juga bisa melihat, bahwa arsitektur itu bukan hanya sekedar arti sebuah garis, arti sebuah pintu, jendela, gerbang, tempat duduk, apapun itu, tapi memiliki dampak yang maknanya sangat berpengaruh dalam kehidupan kitasehari – hari. Ada sistem, ada aturan, ada kedisiplinan, Itu adalah budaya, “budaya itu merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi ketika kita menyebutkannya secara wujud itu adalah sesuatu yang indah di keseharian kita,” jelas Sarah “itulah yang ingin kita bicarakan di arsitektur indonesialand ini,” lengkapnya

Tujuan membangun kesadaran arsitektur juga turut dirasakan oleh salah satu mahasiswa peserta Sayembara Indonesialand yaitu Evan Adi Wijaya, menurutnya Indonesialand ini bisa jadi suatu tonggak pemikrian arsitektur di Indoneisa, “jadi bisa menyadarkan masyarakat juga kalau arsitektur tuh bukan sekedar bangunan tapi juga lebih dari itu, bisa menyelesaikan problematika yang terjadi pada masyarakat,” tuturnya

Tujuan yang besar itu memiliki tantangan yang cukup besar juga, terutama dalam hal penyampaian sesuatu yang abstrak dan sulit untuk dimengerti pada khalayak umum. Hal itu juga dirasakan oleh salah satu peserta sayembara yaitu Evan Adi Wijaya yang mengatakan bahwa gagasan abstrak yang diungkapkan disini itu sulit untuk ditangkap dan dicerna oleh masyarakat umum, gagasan-gagasan yang diungkapkan disini masih seperti “masturbasi intelektual” bagi para peserta pameran. “Pameran ini Belum bisa meng-encourage khalayak untuk actionjelas Evan

Sarah mengakui bahwa untuk mewujudkan tujuan dari indonesialand sendiri memang cukup sulit, “itu memang pr besar, karena pameran ini sendiri kan mahal, yang kedua adalah belum tentu juga orang mampu, maksudnya penyerepan orang melihat dan memahami itukan sangat subjektif,” Jelas Sarah saat menjelaskan bagaimana cara agar tujuan indonesialand bisa tercapai.

Sarah pun mempunyai pemikiran dan harapan lain yaitu bahwa setidaknya para pengunjung yang datang melihat hasil pemikiran yang dipamerkan di Indonesialand ini memiliki sebuah pertanyaan. “seorang guru, seorang kurator, apapun itu, ia tidak memberikan jawaban, tapi memberikan pertanyaan,” ujarnya. Karena pertanyaan itu penting, pertanyaan itu tidak akan pernah habis. kalau jawaban itu banyak, tapi orang kreatif adalah orang yang punya pertanyaan. “jadi sebenrnya ujungnya adalah untuk memperbaiki kualitas hidup kita. itu jangka panjangnya,” lengkap Sarah di penghujung wawancara

 

 

, , , , ,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *