20151113-image

From Us,Interview

F.X. Budiwidodo: Dosen Nyentrik Sarat Pengalaman

4 Dec , 2015  

 

Rambut panjangnya yang dan selalu diikat, dan celana jeans dengan sepatu bootsnya selalu mendukung penampilannya yang nyentrik, hal tersebut menjadi ciri khas dosen yang paling senior di arsitektur UNPAR saat ini. Setelah lulus dari SMA st. Aloysius Bandung, Beliau melanjutkan pendidikan di UNPAR dan mendapatkan beasiswa penuh, dengan syarat setelah lulus beliau harus menjadi dosen, karena pada saat itu UNPAR sangat membutuhkan cukup banyak pengajar. Dosen yang juga alumni ini merupakan mahasiswa arsitektur angkatan 1973dan berhasil lulus pada tahun 1980. Setahun setelah lulus beliau langsung berkarir menjadi dosen dan sukses membuat arsitektur UNPAR menjadi salah satu jurusan arsitektur terbaik di Indonesia hingga saat ini.

Dosen arsitektur legendaris yang memiliki hobi berpetualang ke alam ini adalah salah satu mitra pendiri dan pembina UKM Mahitala periode 1994 s/d 2003 (saat menjabat Purek-III bid Kemahasiswaan) , selain itu beliau juga aktif dalam organisasi kepemudaan, salah satunya ialah PMKRI. Hobinya dan kegiatan beliau dalam organisasi kepemudaan membuat ia biasa mendapatkan pendidikan yang keras dan tegas, dan hal itu terbawa pada cara mengajarnya yang selama menjadi dosen. Selain tegas dan disiplin, dalam setiap pengajarannya, beliau selalu menenkankan dan menularkan jiwa nasionalisme pada setiap mahasiswa yang beliau ajar.

“kamu boleh kerja di luar negeri, boleh studi di luar negeri tapi harus tetap membela Negara ini”

Jam terbang mengajar yang sangat tinggi (1981-Saat ini) membuat beliau mengalami dan merasakan betul akan perubahan dan perkembangan zaman, terutama perubahan signifikan dari sebelum adanya teknologi dan setelah adanya teknologi informasi yang masuk ke dalam dunia perkuliahan, khususnya arsitektur. Beliau menanggapi teknologi ini dengan sederhana, beliau berpendapat bahwa teknologi itu hanya sebuah alat, jika digunakan dengan baik maka efeknya pun akan baik pula. Namun beliau juga tidak bisa menampik bahwa dengan adanya teknologi ini berdampak pada berkurangnya kreativitas mahasiswa. Dengan adanya teknologi, mahasiswa yang seharusnya menciptakan sesuatu yang baru, cenderung hanya menjadi seorang konsumen. kecanggihan alat (pengguna alat belaka). Kreativitas dan Imajinasi terkait dengan rasaketeknikan” dan “keruangan” seolah tidak berdaya.

Dosen yang sempat nyantrik menimba ilmu selama 2 tahun pada romo mangunwijaya ini juga berpendapat bahwa Perubahan cara mengajar dan belajar dalam perkuliahan ini sebenarnya bukan hanya disebabkan oleh teknologi, menurut beliau perubahan ini juga terpengaruh dari perubahan watak dari generasi ke generasi. Beliau merasa bahwa etos kerja generasi sekarang atau yang biasa kita sebut “generasi Z”, tidak mempunyai semangat juang seperti generasi-generasi sebelumnya. Namun kita sendiri tidak bisa menolak atau melarang perubahan tersebut, perubahan itu harus ditanggapi dengan keterbukaan antara pengajar (dosen) dan para mahasiswa, kita harus bekerja sama untuk menciptakan satu rumusan dan cara pengajaran yang baru yang relevan dengan generasi sekarang. Jangan konservatif dan jangan juga memuja “modernisasi” Apalagi memanjakan mahasiswa. Yang terpenting dan harus ditekankan bahwa arsitektur ini adalah fusi antara teknik dan seni. Kedua aspek tersebut haruslah seimbang. Selain itu, beliau juga berpesan dan mengharapkan kepada para mahasiswa untuk menjadi seseorang yang lebih kristis, peduli terhadap sekitar. Tapi yang perlu digaris bawahi ialah kritis yang dimaksud haruslah konstruktif bukan hanya euphoria semata.

Text | F

,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *