IMG20151030170837

Events,Review

Diskusi Arsitektur dan Kebudayaan: Mengingat Arsitektur Tradisional Melalui Ciptagelar

20 Nov , 2015  

Ciptagelar merupakan acara diskusi yang diadakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat serta FIMA Jabar, dengan tujuan mengajak pelaku arsitektur untuk meningkatkan kualitas diri agar mampu bersaing baik di dalam negri maupun mancanegara. Lokalitas dianggap sebagai salah satu cara untuk dapat bertahan menghadapi tantangan Pasar Bebas Asia. Dengan diaadakannya kegiatan ini, diharapkan dapat memicu pemuda agar siap menghadapi tantangan dan pesaingan global, serta menjaga eksistensi arsitektur tradisional sebagai warisan yang dapat terus dikembangkan ini agar tidak terputus. Acara ini diadakan pada tanggal 30 Oktober 2015 di auditorium museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas, hingga beberapa dari profesi lain. Acara ini dimoderatori oleh Indah Widiastuti yang juga menulis artikel mengenai kearifan lokal untuk acara ini. Kegiatan diawali dengan presentasi hasil dokumentasi desa Ciptagelar oleh Reina Ayulia, mahasiswi UPI angkatan 2010, dan dilanjutkan oleh Baskoro Tedjo dan Purnama Salura sebagai pembicara.

‘…ini lebih mahal daripada kita mempelajari arsitektur dari luar.’

IMG20151030170430

 

Kegiatan FIMA mendokumentasikan arsitektur adat merupakan bentuk kesadaran mahasiswa untuk menggali identitas arsitektur Indonesia yang jarang ditemukan referensinya (misalnya buku) di pasaran. Pendokumentasian tersebut dianggap penting untuk menjadi salah satu cara melestarikan arsitektur lokal, dimana menurut Reina sebagai representasi FIMA Jabar, mempelajari arsitektur lokal adalah lebih mahal daripada mempelajari arsitektur dari luar.

 

FIMA Jabar memilih desa Ciptagelar dari sekian banyak desa adat di Jawa Barat, karena komunitas ini sudah bertahan lebih dari 350 tahun dalam menjaga nilai tradisi, namun tetap terbuka terhadap perkembangan teknologi. Banyak nilai-nilai yang dapat dipelajari, seperti bagaimana masyarakat desa Ciptagelar memperlakukan alam sebagai yang empunya kehidupan, dan padi sebagai sumber kehidupan. Dengan orientasi terhadap alam, kemudian diterapkan banyak analogi oleh masyarakat setempat dalam membangun arsitektur, seperti kolom yang bercabang, atap salak, lantai panggung, dan lain sebagainya.

‘Culture of research – educating as well as bringing beneficial to the society.

IMG20151030170837

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sharing pemikiran Purnama Salura, sebagai salah satu akademisi yang pro-vernakular. Ia menyadari bahwa kita harus melihat segala sesuatu dari dua sisi, baik dan buruk. Begitu pula dengan arsitektur lokal, ada yang baik dan ada yang jelek. Dengan menampilkan banyak fenomena arsitektur (dan non-arsitektur), Purnama Salura mengamati banyaknya kecenderungan budaya membangun terutama di Indonesia, seperti budaya copy-paste, ‘banal market base always, never research base (hanya mengikuti kemauan pasar, issue, gosip. Jarang dilakukan melalui research)’, arsitek sebagai client satisfier dan arsitek sebagai center of knowledge, fenomena localizing the global dan globalizing the local, serta budaya sintesis. Sintesis yang global dan lokal berupa ‘mengglobalkan yang lokal’, itulah yang ingin dicapai Purnama Salura melalui topik yang dibawakannya. Ia mengajak peserta untuk melakukan research dalam mencapai sintesis. Inspirasi yang lebih bersifat mendidik ini kemudian menjadi rujukan dari Purnama kepada peserta untuk melakukan research, dibagikan, dan dijadikan bermanfaat bagi masyarakat.

‘…Kalau tidak mendekati dari budaya, orang sana tidak tahu dan tidak bisa mengapresiasi atau menerima karya saya.’

IMG20151030170848

Sesi ketiga disambung oleh Baskoro Tedjo. Sesi ini menunjukkan salah satu praktik arsitketur yang menerapkan nilai lokal ke desain masa kini. Bagaimana ia menarasikan konsep dan proses desain bangunannya kerap mengundang tawa peserta. Nadanya serius, tapi isinya humor. Tidak hanya mengenai konsep dan proses perancangan, Baskoro Tedjo juga menceritakan apa yang terjadi hingga gedung digunakan. Banyak proyek yang diceritakan oleh Baskoro Tedjo untuk menginspirasi peserta, seperti proyek kantor Bupati Tulang Bawang di Lampung misalnya. Ia menerapkan simbol setempat berupa payung tiga susun untuk atap bangunan utamanya, dan secara bentuk memetaforakan kain tapis menjadi tampak bangunan. Ada pula proyek yang menggunakan allution (kemiripan). Balok wuwungan kayu yang dipanjangkan pada zaman dulu menjadi tipikal rumah orang kaya. Kemudian pada proyek Jember House, wuwung itu diromantiskan secara modern dengan mengganti material kayu menjadi beton. Proyek lain yang menarik untuk dibahas misalnya proses munculnya empat kubah kecil pada desain Kantor Bupati dan satu kubah besar pada Kantor DPRD Siak, juga dekonstruksi rumah joglo pada proyek Pondok Indah House. Singkatnya, melalui ‘tamasya slide’ Baskoro Tedjo menceritakan kekreatifannya menyeimbangkan antara permintaan klien dengan rancangannya.

Secara keseluruhan, proses diskusi berjalan sangat menarik. Pembawaan para pembicara yang santai dan ringan dan diselingi dengan fenomena-fenomena di luar arsitektur, menarik peserta untuk terus mengikuti diskusi. Ditambah lagi pada sesi tanya jawab peserta secara aktif memberi banyak tanggapan serta pertanyaan-pertanyaan menarik, sehingga semakin meramaikan acara diskusi.

IMG20151030154842

Text | DA

,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *