untitled-5

Contributors,Others

Arsitektur Hijau: Ekspedisi Wana 2016

10 Jun , 2016  

Indonesia sejak lama telah dikenal sebagai negara yang memiliki banyak jenis suku. Masing-masing dengan sifat karakter serta keunikannya tersendiri. Kebutuhan akan ruang terencana, sebagai salah satu kebutuhan manusia yang paling penting memiliki banyak keragaman bentuk dan juga sifat antara suku-suku yang ada di Nusantara. Bangunan-bangunan yang diciptakan oleh suku-suku ini disebut sebagai arsitektur vernakular, dan oleh karena keberagaman yang luas tersebut, memicu anggota Arsitektur Hijau untuk meneliti, mempelajari kearifan lokal suku tersebut untuk memajukan ilmu khususnya dalam bidang pengetahuan arsitektur.

kommunars6


kommunars2

Ekspedisi adalah program kerja terbesar tahunan Arsitektur Hijau, yang merupakan kunjungan langsung untuk meneliti sebuah permukiman adat. Setiap tahunnya dipilih sebuah obyek studi yang memiliki nilai-nilai tertentu yang unik dan juga menarik. Pada awal tahun di bulan Januari 2016, beberapa anggota dari tim Ekspedisi 2016 telah melakukan survey secara langsung kepada sebuah suku adat yang bernama Tau Taa Wana, dibantu dan didampingi oleh perwakilan sebuah LSM yang aktif pada daerah tersebut, bernama Yayasan Merah Putih (YMP)

Tau Taa Wana adalah salah satu suku Indonesia yang berdomisili pada hutan – hutan Provinsi Sulawesi Tengah. Memiliki empat sub-suku, Tau Taa Wana Posangke sebagai salah satunya, terletak pada bagian Barat Daya dari Gunung Tokala, sepanjang Sungai Salato. Nama Tau Taa Wana sendiri memiliki arti “orang hutan”, yang menjelaskan tentang gaya hidup suku adat tersebut.

Nilai-nilai yang menarik pada suku adat ini adalah sifat permukiman mereka yang semi-nomaden, serta kemudahan mereka untuk meninggalkan tempat tinggal mereka saat kondisi-kondisi tertentu, yang cukup berbeda dari suku adat nusantara lainnya yang memprioritaskan tempat tinggal sebagai sesuatu yang sakral dan harus dipertahankan selamanya. Permukiman mereka terdapat dua jenis, pertama Lipu yang berarti desa/kampung, dan juga Navu yang berarti rumah ladang.

 

kommunars4

kommunars3

Selain itu juga, mereka memiliki sebuah sistim tata guna lahan, dimana padi, sebagai sumber pangan utama mereka, ditanam pada lahan yang telah diatur penggunaannya, Dimana setiap kali setelah panen mereka berpinah lahan untuk menjaga kesuburan hutan adat mereka. Ladang yang telah dipakai dibiarkan hingga bertumbuh hutan muda yang beberapa tahun kemudian akan dipakai kembali sebagai ladang.

 

kommunars7

kommunars5

 

Menyikapi rutinitas perpindahan tiap tahunnya, rumah adat mereka cenderung sederhana. Terbuat dari bahan-bahan yang bisa mudah didapatkan dari alam sekitar, waktu yang dibutuhkan untuk membangunnya sangatlah singkat, hanya satu hari. Dengan terpencilnya lokasi mereka, rumah – rumah ladang juga tidak dibutuhkan ruang-ruang yang rumit, cukup sebuah naungan dari matahari dan hujan.

Kegiatan Ekspedisi Wana 2016, akan dijalankan oleh Arsitektur Hijau pada tanggal 18-27 Juli 2016. Akan dilaksanakan rangkaian penelitian, berupa pengambilan data fisik dan juga sosial dari suku adat tersebut, yang kemudian akan diolah menjadi sebuah produk yang dapat ditunjukkan kepada masyarakat luas dalam bentuk buku dan pameran pada tahun yang akan mendatang.

 

kommunars1

 

“Kekayaan dan keanekaragaman karakter Arsitektur Nusantara menjadi motivasi yang sangat besar pada segenap anggota Arsitektur Hijau untuk terus menjelajah.”

 

Arsitektur Hijau: Website | Instagram

 

, ,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *